Minggu ke-13, Maret 2017

Setelah selesai berganti pakaian tidur, puteri kecil saya berbisik kepada saya, “Ma, saya minta maaf ya, jika besok guru saya akan memberi laporan tentang hasil ulangan matematika saya. Benar kata mama, saya kurang teliti. Saya mendapat nilai 75, ma. Saya sedih, ma.”
Deg, hati saya langsung tertohok. Benar kata mama? Langsung deh saya membongkar memori saya, apa yang saya katakan pada puteri saya ya? Tapi saya tidak memiliki waktu merenungkan itu. Saya harus segera menjawab puteri saya yang lagi sedih, yang membutuhkan kekuatan dan penghiburan dari saya. Dan besok saya dan ayahnya akan bertemu dengan guru-guru kelasnya, membicarakan perkembangan belajarnya.
“Nak, bersyukurlah untuk nilaimu. Berapapun itu, tidak akan berarti jika engkau tidak meningkatkan diri. Misalnya belajar untuk lebih teliti lagi, belajar untuk memeriksa kembali jawaban ulanganmu,” hibur saya.
“Ya ma, saya akan lakukan itu,” sahutnya.
Saya langsung menambahinya, “Dengan memeriksa kembali jawabanmu, engkau belajar merendahkan hatimu dan kesabaranmu.”
“Lho kok begitu ma?” tanyanya memotong perkataan saya.
“Begitu engkau keluar kelas dengan cepat saat selesai menjawab soal-soal ulanganmu, dan waktu masih ada, maka engkau akan mengganggu konsentrasi teman-temanmu. Itu tidak rendah hati nak. Pakailah waktu itu untuk meneliti ulang jawabanmu dan belajarlah bersabar. Engkau pasti bisa. Mama yakin engkau anak yang teliti, rendah hati dan sabar!” kalimat demi kalimat saya pilih untuk menghapus citra diri puteri kecil saya bahwa ia kurang teliti.

Saya menyadari diri saya masih belajar menjadi orangtua yang baik. Terkadang kata, bahkan kalimat negatif terucapkan sehingga mempengaruhi citra diri putera-puteri saya.
Memperkatakan hal negatif sekalipun dalam pesan positif, akan menghasilkan hal negatif. Contohnya banyak sekali : ‘jangan nakal ya nak’, ‘jangan ribut ya’, ‘jangan merokok’, ‘jangan buang sampah sembarangan’, ‘jangan ngebut’, ‘jangan menyontek’, dan sebagainya yang sering terucap secara latah di masyarakat.
Kata jangan : negatif, kata nakal : negatif. Lalu apakah itu akan menghasilkan citra diri positif pada anak?

Perkataan orangtua sangat penting bagi anak, melebihi perkataan siapapun di luar rumah sana. Perkataan adalah doa orangtua untuk anaknya kelak.

Amsal 13:3
Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.

Amsal 18:20
Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.

❤🖤❤🖤❤🖤❤ – with I Dewa Gede, Kelly, I, and Kenishia

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s