Minggu ke-10, Maret 2017

“Ma, apa arti kata gadai emas?” tanya puteri kecil saya saat dalam perjalanan ke sekolah. Saya berusaha menjelaskan secara singkat, tapi syukurlah suami saya menjelaskan panjang lebar tentang hal itu.
Saya jadi ingat semua didikan suami saya tentang kecerdasan keuangan kepada anak-anak kami.
Sejak anak-anak kami kelas 3 SD suami saya memotivasi anak-anak belajar tentang uang. Bukan saja mengenai uang jajan, melainkan bagaimana mendapat uang. Kami sekeluarga juga melakukan permainan yang mendukung itu, seperti monopoli.
Akhirnya mereka melakukan sendiri.
Si sulung belajar dengan berjualan pensil, nasi bungkus, dan masih banyak lagi. Puteri remaja kami berjualan unduhan film. Si bungsu belajar menjual balon, mainan, dan mainan ‘squizy’ yang dibuatnya sendiri.
Si sulung berhasil mengatasi rasa malunya dengan menenteng tas yang berisi banyak nasi bungkus, lalu menjualnya kepada teman-temannya.
Si bungsu berusaha membujuk saya untuk mengiklankan kepada para orangtua teman-temannya, tapi saya menolak secara halus dan memotivasinya untuk belajar kiat-kita promosi. Saya ajak ia bersimulasi dan tampaknya berhasil.

Semua anak-anak kami pernah ditertawakan teman-temannya dan diledek karena berjualan. Pengalaman yang sangat berharga!

Kami beri modal dan buat sistem bagi keuntungan. Hahaha, pastilah keuntungannya tidak pernah dikembalikan, karena hanya diomongkan. Tapi mereka selalu ingat membagikan kepada para karyawan kami yang membantu mereka.

Mengapa pendidikan ini penting? Agar mereka mengetahui dan memiliki pengalaman mendapatkan uang dengan cara mereka sendiri. Mau tidak mau mereka akan belajar merencanakan proyek penjualan, mengiklankan produk, membuat penawaran, membuat kesepakatan harga serta menerima penolakan. Mereka belajar untuk kecewa, belajar bersepakat dan belajar menghargai keuntungan sekecil apapun.
Dan yang terutama mereka tahu bahwa uang hanyalah alat, benda mati, untuk digunakan dengan benar. Uang bukan tuan, bukan untuk disembah.

1 Timotius 6:10
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Ibrani 13:5
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

β€πŸ–€β€πŸ–€β€πŸ–€β€ – with I Dewa Gede, Kelly, I, and Kenishia

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s