Minggu ke-06, Pebruari 2017

Saya senang menonton film kisah hidup orang-orang pembuat sejarah.

Sepasang suami isteri bercerita bagaimana mereka bisa menikmati pernikahan selama berpuluh-puluh tahun. Mereka menikmatinya karena mereka memegang peraturan :
1) komunikasi
2) fokus pada solusi saat konflik
3) komitmen.

Saat terjadi konflik, jika peraturan no 1 tidak berjalan baik, maka peraturan no 2 akan membantu menyelesaikannya. Jika tidak, maka jawabannya peraturan no 3. Mengapa? Karena komitmen itu bukan hanya pada pasangan saja, tapi pada pernikahan itu juga. Menikah berarti 2 menjadi 1. Persamaan harus lebih diutamakan daripada perbedaan.

Umumnya konflik bermula terjadi karena pola asuh masa lalu (masa kecil, masa remaja, masa pra-nikah) yang dibawa ke dalam masa pernikahan. Sayangnya, banyak orang tidak memahami pasangannya, alias tidak mengenal dengan baik sehingga terjadilah perceraian.

Mereka juga menuturkan cerita ini.
Alkisah, ada seorang suami mendatangi pendeta, sebagai konselor pernikahan. Dia mengeluh tentang isterinya, katanya isterinya menjadi orang yang berubah. Ia menceritakan dengan rinci keburukan isterinya. Menurutnya, dulunya saat mereka bertemu, berpacaran dan awal pernikahan mereka, isterinya adalah orang baik. Lalu dia diminta menceritakan dengan rinci kebaikan isterinya.
Lalu sang konselor bertanya pada si suami, “Sehari-hari isteri bapak bergaul dengan siapa? Maksudnya, waktu terbanyak isteri dihabiskan dengan siapa?”
Jawab si suami, “Saya, suaminya.”
“Jika demikian, bapak adalah orang yang paling bertanggung jawab atas perubahan isteri!” konselor menjawab dengan tersenyum.
Si suami terpana mendengarnya. “Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanya si suami lagi.
“Sekarang, bapak pulang, lakukan yang seperti dulu bapak lakukan saat bertemu, berpacaran dan masa awal pernikahan kalian. Lakukan terus, jadikan kebiasaan, sampai kebaikan isteri bapak kembali lagi menjadi kebiasaan isteri!” konselor itu menjawab dengan tegas, sambil menepuk pundaknya.

Melalui kisah ini, pasangan suami isteri tersebut semakin bijak menyikapi permasalahan mereka. Dan tentu saja hubungan mereka semakin harmonis.

Wah, saya sangat diberkati dengan kisah mereka. Saya sadar bahwa sepasang suami-isteri itu saling mempengaruhi, mau ke arah keharmonisan atau ke arah perpecahan.

Matius 19:5-6
(5) Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
(6) Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

2 Korintus 8:14
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka (pasanganmu), agar kelebihan mereka (pasanganmu) kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.

❤🖤❤🖤❤🖤❤ – with I Dewa Gede, Kelly, I, and Kenishia

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s