Minggu ke-49, Desember 2016

Saya sangat senang menulis. Yah, saya bangga mengatakannya. Saya menulis apa saja. Dari kecil saya sudah senang menulis. Awalnya menulis surat kepada para artis cilik seumuran saya… ha ha Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, Ira Maya Sopha, dll. Semua saya surati. Dan mereka balas! Walau balasannya bukan tulisan tangan dan bunyinya juga bukan untuk saya pribadi. Balasan untuk umum. Tapi itu sudah membuat seorang anak kecil seperti saya sangat bergembira.

Lalu saya mulai belajar menulis surat kepada teman-teman saya yang berbeda kota dengan saya. Hampir dari seluruh Indonesia! Mereka membalasnya! Dan balasannya sangat pribadi, khusus ditujukan kepada saya, tidak seperti para artis cilik itu. Lalu kegemaran menulis itu meningkat, yaitu menulis puisi. Kirim ke majalah Bobo, kirim ke koran Sinar Harapan, pokoknya banyak lagi… ada yang dimuat, tapi ada juga yang ditolak alias dikembalikan. Tidak apa. Saya juga mengikuti lomba menulis puisi, membaca puisi… saya menang! Juara! Saya juga ikut lomba menulis pidato, dan menang! Saya juga menulis cerpen. Saya belajar dari seorang teman SMA yang gemar menulis dan rajin mengirim tulisan cerpennya di majalah remaja, Citra.

Bahkan setelah menjadi seorang ibu, saya tetap menulis. Menulis blog saya pribadi, menulis cerita inspirasi, dan sebagainya. Termasuk juga mengikuti lomba menulis untuk para wanita, dan saya bangga telah menjadi finalis.

Kegemaran itu yang membuat saya rajin menulis buku harian. Setiap tahun. Dan setiap akhir tahun, ke manapun saya dan keluarga melancong, saya akan sibuk buku harian untuk tahun depannya. Termasuk pembatas buku yang unik. Mengasyikkan.

Saya menulari semua anak saya untuk gemar menulis. Tulis kalimat motivasi harian, tulis buku harian, tulis rencana harian, tulis apa saja. Itu berarti mencatat juga. Catat pelajaran, catat resep, catat khotbah di gereja… catat, catat, catat!

Saya ingat kalimat seorang pengkhotbah, “Untuk sebuah karya masakan yang akan dimakan dan berakhir di jamban kita mau menulis resepnya. Masakan kita tidak mau menulis apa kata TUHAN sebagai panduan hidup kita agar hidup kita berkemenangan!”

Dan saya percaya TUHAN juga seorang penulis yang agung. Karena itu kita dapat membaca tulisanNYA pada kitab suci Alkitab. Maka saya dengan bangga berkata : saya seorang penulis!

Keluaran 32:16 Kedua loh itu ialah pekerjaan Allah dan tulisan itu ialah tulisan Allah, ditukik pada loh-loh itu.

2 Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. – with I Dewa Gede, Kelly, Kenishia, and I Dewa Nyoman Alit Adiya

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s