Minggu ke-45, Nopember 2016

Puteri remaja saya mengikuti kegiatan MUN (Mini United Nations).
“Ma, saya mewakili negara X dalam ‘MUN debate’ nanti. Saya harus tahu pandangan, pemikiran dan permasalahan negara tersebut. Saya harus bisa menyuarakan suara rakyat negara X itu di hadapan semua perwakilan negara di dunia,” kata puteri saya. Saya memandangnya dengan penuh kagum, lalu memeluknya dengan penuh kasih.

“Negara yang merdeka adalah negara yang memahami arti kemerdekaannya. Harga dari sebuah kemerdekaan, serta resiko dari kemerdekaan itu. Untuk itu maka diperlukan hukum sebagai wasitnya,” kata saya bak seorang negarawan.
“Apa maksud mama?” tanya puteri saya.
“Negara laksana sebuah keluarga. Keluarga itu memiliki pemimpin, wakil dan anggota-anggota. Siapa pemimpin, wakil dan anggota dalam keluarga kita?” tanya saya .
“Pemimpinnya papa, wakilnya mama dan anggota-anggotanya adalah kami, anak-anak papa-mama!” sahutnya.

“Sebagai contoh : semua orang dalam keluarga mendapat hak yang sama yaitu merdeka mengeluarkan pendapat. Tapi apakah bisa seenaknya? Tidak bisa! Mengapa? Karena ada wasitnya! Aturannya! Ada aturan berbicara. Harus menepati 5T :
tepat topik,
tepat lawan bicara,
tepat waktu,
tepat santun dan
tepat arahan.

Topik apa yang akan dibicarakan, kepada siapa itu disampaikan, kapan waktu yang terbaik untuk membicarakannya, kesantunan saat berbicara dan apa arahan yang hendak didapat. Itulah arti kemerdekaan yang diikat oleh hukum atau aturan.
Karena harga sebuah keluarga jauh melebihi harga sebuah kemerdekaan. Karena resiko kemerdekaan yang tidak diikat aturan adalah keruntuhan,” saya berusaha menjelaskan dengan ringkas.
“Lho kok keruntuhan?” tanya puteri saya lagi.
“Jika tidak ada lagi rasa hormat kepada pemimpin, maka sebuah keluarga sudah diambang kehancuran. Demikian juga sebuah negara.
Aturan harus menghormati pemimpin harus diikuti terlebih dahulu. Apapun perbedaan yang ada, rasa hormat itu harus didahulukan. Jadi kemerdekaan harus diikat oleh rasa hormat kepada papa, juga mama. Yang lain akan mengikuti!” tegas saya. Puteri saya mengangguk-anggukkan kepalanya. Saya hanya dapat berdoa di dalam hati agar ia benar-benar paham arti merdeka yang terikat aturan.

Ibrani 13:17 Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.

Ester 1:20b maka semua perempuan akan memberi hormat kepada suami mereka, dari pada orang besar sampai kepada orang kecil.

Matius 19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️ – with I Dewa Gede, Kelly, Kenishia, and I Dewa Nyoman Alit Adiya

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s