Minggu ke-37, September 2016

“Bagaimana bisa anda menuntut putri-putra anda mempertahankan keperawanannya sampai pernikahan, jika anda sendiri tidak perawan lagi saat menikah,” kata psikolog kondang @Ratih Ibrahim saat memberikan seminar tentang permasalahan remaja.

Saya telah membicarakan tentang keperawanan itu kepada putra-putri saya jauh sebelum mereka menjadi remaja.
Saya telah memulai pendidikan seks sedini mungkin, tentu saja bekerja sama dengan suami. Awalnya saat mereka masih balita, dengan cara mandi bersama. Memperkenalkan bentuk badan yang berbeda antara wanita-pria. Juga melalui buku-buku cerita.

Menjadi seorang perawan sangatlah bangga.
“Saat mama menikah, mama mempersembahkan keperawanan mama untuk papa kalian. Karena kami sudah dalam pernikahan yang kudus dan resmi. Menjadi perawan karena TUHAN mau kita hidup kudus! Hidup suci! Tidak ada kompromi tentang itu!” kata saya berulang kali kepada anak-anak saya.
“Keperawanan adalah harga diri.
Keperawanan bukan hal yang dapat dijadikan komoditas pergaulan.
Keperawanan adalah bukti keteguhan hati, kesucian, keyakinan dan percaya diri secara fisik!” saya tegaskan lagi.
“Ya ma,” jawab mereka.

1 Tesalonika 4:3-5
Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal ALLAH. – with I Dewa Gede, Kelly, Ratih , Kenishia, and I

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s