Minggu ke-36, September 2016

“Mama, apakah sudah siap melepas saya? Maksud saya, pada saatnya saya akan kuliah,” kata putri remaja saya saat kami duduk bersama.

“Mama tidak akan pernah siap, nak. Karena dirimu dan mama tidak pernah terpisahkan. Tapi mama tahu, ada saat di mana mama harus melepasmu demi masa depanmu,” sahut saya sambil menahan air mata.
“Hahahaha, saya tahu itu,” jawab putri saya.

“Kita bersyukur ada teknologi komunikasi, sehingga kita tetap dapat terhubung. Tetapi terlebih penting lagi mama dan dirimu harus memperkokoh hubungan pribadi dengan TUHAN, karena IA yang mahahadir, mahatahu di mana pun dirimu berada, bagaimana pun keadaanmu. IA yang akan memberitahu mama tentang diriMU,” kata saya.

“Caranya?” tanyanya lagi.

“TUHAN dapat memakai segala macam cara untuk memberitahu mama. Yang pasti adalah melalui tubuh mama, karena tubuhmu adalah bagian dari tubuh mama. Kuncinya adalah kepekaan mama dan dirimu untuk hal itu,” kata saya seraya memeluk putri remaja saya.

2 Korintus 2:3-4
Dan justru itulah maksud suratku ini, yaitu supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita oleh mereka, yang harus membuat aku menjadi gembira. Sebab aku yakin tentang kamu semua, bahwa sukacitaku adalah juga sukacitamu.
Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua. – with I Dewa Gede, Kelly, Kenishia, and I

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s