Minggu ke-33, Agustus 2016

Kami kedatangan tamu sepasang suami-istri sudah cukup tua, sehingga anak-anak kami memanggilnya opa-oma.

Dalam percakapan kami, opa memberi wejangan bahwa berbohong demi kebaikan itu bisa dilakukan.
Tapi apakah ukuran kebaikan menurut setiap orang sama? Dan apakah ukuran kepantasan untuk berbohong juga sama untuk setiap orang?
Tentu saja tidak!

Oleh sebab itu, terbaik bagi kita semua menggunakan ukuran TUHAN, bahwa berbohong tidak boleh dilakukan, apapun alasannya.

“Tidak ada berbohong untuk kebaikan ya nak! Ingat itu! Berbohong tetap berbohong! Dan itu dosa!” kata saya kepada anak-anak saya. “Apapun itu alasannya, jangan pernah berbohong!” tambah saya lagi dengan tegas, guna menghapuskan semua wejangan opa tadi.

Ternyata tidak semua wejangan itu harus dilakukan. Didengar : boleh, diuji dengan Firman TUHAN : harus!

Mazmur 50:23 Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku;
siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.”

Amsal 16:13 Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya. – with I Dewa Gede, Kelly, Kenishia, and I

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s