Minggu ke-24, Juni 2016

Sejak kecil saya menyaksikan ibu saya menyisihkan uang belanjanya untuk menolong sesama yang berkekurangan.
Entah itu uang sekolah, uang jajan maupun uang makan.

Ibu saya selalu berkata bahwa memberi adalah ungkapan rasa syukur beliau kepada TUHAN.
Oleh karena itu tradisi ‘memberi’ saya teruskan berlangsung dalam keluarga kami.

Saya mengajak anak-anak saya berbelanja kebutuhan pokok para anak yang berkekurangan setiap bulannya. Awalnya mereka hanya melakukan karena saya yang menyuruhnya. Lambat laun mereka memutuskan sendiri untuk memberi kepada sesama yang berkekurangan. Memberi bukan saja saat mau memberi, tetapi rutin memberi dalam jangka waktu tertentu, misalnya bulanan atau mingguan. Emosi mereka akan terlatih dan mereka dapat mengontrolnya.
Dan dapat memahami ‘memberi dari kekurangan’ kita, bukan saja ‘memberi dari kelimpahan’ kita.

Akhirnya mereka akan memilih : lebih baik memberi daripada menerima.

Kisah Para Rasul 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. – with I Dewa Gede, Kelly, Kenishia, and I

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s