Minggu ke-19, Mei 2016

Saya sangat bersyukur bahwa saya belum memerlukan kacamata untuk membaca, bahkan untuk memasukkan benang ke dalam lobang jarum jahit.
Saya percaya itu hasil akumulasi hal-hal positif yang saya lakukan berkaitan dengan mata saya.
Saya teringat masa kecil saya, bagaimana ayah-ibu saya memberi contoh makan wortel mentah setiap pagi. Awalnya saya tidak menyukainya, tapi karena mereka rutin makan wortel mentah dengan enaknya, lama-lama saya makan juga dan akhirnya ketagihan.
Saya juga ingat seringnya ayah saya meletakkan penggaris untuk mengukur jarak mata saya dan buku yang saya baca. “Harus 30 cm ya!” kata ayah dengan tegas. Belum lagi ayah akan marah besar jika saya membaca sambil berbaring. “Tidak boleh! Harus duduk jika membaca!” katanya. Ayah saya juga sangat memperhatikan arah lampu baca saat saya membaca.
Dulu saya sangat terganggu dengan segala aturannya, karena saya senang sekali membaca.
Saya bersyukur karena saya taati itu dan saya menerima upahnya sekarang. Teman-teman sebaya saya umumnya sudah memakai kacamata, tapi saya belum memerlukannya. Semoga seterusnya tidak.

Amsal 4:1 Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian,

Amsal 6:20 Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu – with I Dewa Gede, Kelly, Kenishia, and I

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s