Minggu ke-15, April 2016

Di hari ulang tahun pernikahan saya dan suami, saya mengingat semua jawaban yang saya ucapkan 22 tahun yang lalu…

(1). Apakah saudari mengakui di hadapan TUHAN YESUS dan JemaatNYA bahwa saudari bersedia dan mau menerima Sdr _________ sebagai suami saudari satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup saudari?

(2). Apakah saudari bersedia tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada KRISTUS, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama saudari berdua hidup?

(3). Apakah saudari bersedia menjaga kesucian perkawinan ini sebagai istri yang setia dan takut akan TUHAN sepanjang umur hidupmu?

“Saya bersedia!” itu jawaban saya untuk semua pertanyaan. Berarti saya berjanji pada TUHAN, bukan pada manusia. Dan saya sangat paham bahwa janji saya itu tidak bisa dibatalkan oleh siapapun atau apapun juga. Janji untuk senantiasa bersatu sampai maut memisahkan.
Memang tidak mudah, tetapi bersama TUHAN, dengan kekuatan kasih karuniaNYA saya pasti bisa!

Matius 19:6
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. – with I Dewa Gede, Kelly, Kenishia, and I

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s